Header

Kenali Kesalahan Pola Asuh yang Sering Dilakukan

4 comments
mengenali kesalahan pola asuh


Dewasa ini, kemudahan untuk memperoleh ilmu tentang pola asuh dapat dinikmati dari berbagai sumber. Sehingga kita sebagai orang tua bisa mempelajari dan memperbaiki kesalahan pola asuh yang sering dilakukan secara tidak sadar atau secara turun menurun. Karena peran orang tua dalam penerapan pola asuh sangat berpengaruh terhadap kepribadian dan karakter anak kelak dan juga mempengaruhi pola asuh terhadap keturunan berikutnya.

Semua orang tua pasti akan berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi buah hatinya, bukan? 
Tapi terkadang kita tidak menyadari jika dalam usaha tersebut telah melakukan kesalahan-kesalahan yang memiliki dampak negatif terhadap kepribadian dan karakter anak.

Mungkin saja menurut kita pola asuh yang diterapkan selama ini sudah benar, tapi sebenarnya belum tepat. Yuk, kenali apa saja kesalahan pola asuh yang tanpa disadari sering dilakukan orang tua dan juga akibatnya menurut Psikolog Anak dan Remaja, Vera Itabiliana H. P.si.


10 Kesalahan Pola Asuh yang Seringkali Dilakukan Orang tua

kesalahan pola asuh yang sering dilakukan

1. Terlalu Banyak Aturan

Naluri orang tua memang melindungi, sehingga kerap membuat dan memberikan aturan-aturan agar buah hati tercinta tidak salah langkah, tetap terarah dan disiplin.

Tapi jika terlalu banyak menjejali anak dengan berbagai macam aturan yang tidak sesuai dengan kebutuhan dan keinginan anak, maka dapat diartikan bahwa orang tua tersebut tidak memberi kesempatan anak untuk mengatur atau menentukan hidupnya sendiri.

Hayo siapa disini yang suka kasih banyak aturan ke anaknya? Gini ga boleh, gitu juga ga boleh..

Contoh yang banyak dijumpai di lingkungan sekitar kita nih, ketika orang tua menginginkan anak unggul dalam hal akademik karena mengkhawatirkan dengan masa depannya. Kemudian mereka mendaftarkan anaknya untuk mengikuti les tambahan beberapa mata pelajaran tanpa mengobservasi dan memperdulikan minat dan bakat sang anak. Maka dengan terpaksa anak akan mengikuti pilihan orang tua dan memendam minat dan bakatnya.

Hal ini akan membuat anak merasa orang tua telah menyengsarakan dirinya dengan terlalu banyak aturan dalam hidupnya. Tuh kan kasian anaknya yang jadi korban.

2. Terlalu Sedikit Aturan

Kebalikan dari terlalu banyak memberi aturan. Dengan sedikitnya aturan yang diberikan pada anak akan membuat anak senang melakukan apapun sesuka hatinya tanpa mengenal batasan.
Hal ini tentunya memberikan dampak negatif tidak hanya bagi anak, namun juga untuk orang tua atau keluarga.

Coba bayangkan saja jika anak kita melakukan perbuatan melanggar hukum seperti mencuri misalnya, karena dia tidak tahu batasan atau aturan mana yang boleh diambil dan mana yang tidak boleh diambil karena bukan milik pribadi. Pastinya nama kita sebagai orang tua juga akan terlibat dalam masalah ini kan?? Dan akhirnya siapa yang malu??
Ya, tentunya keluarga yang menanggung malu akibat dari perbuatannya anak.
Tapi jangan melulu menyalahkan anak ya, kita harus introspeksi diri juga.

3. Terlalu Memanjakan

Artinya selalu memberikan fasilitas yang anak inginkan atau orang tua yang terlalu banyak membantu anak. Sehingga anak tumbuh dangan keinginan yang selalu terpenuhi tanpa melakukan usaha apapun.
Akibatnya anak akan enggan berusaha untuk mendapatkan sesuatu dan malah sebaliknya, akan selalu menuntut agar bisa mendapatkan apa yang diinginkan.
Sederhananya, mau apa ya harus ada.

Contoh yang bisa diambil di masa pandemi ini yaitu kegiatan daring, atau sekolah online. Karena belum bisa sekolah dengan tatap muka, maka kegiatan belajar mengajar dilakukan secara online sehingga melibatkan peran orang tua sebagai pengajar utama dalam keluarga.
Karena khawatir si anak tidak bisa mengerjakan tugas, atau khawatir akan mendapatkan nilai jelek. Akhirnya si Ibu mengerjakan semua tugas anaknya. Ini adalah salah satu contoh dari kesalahan dalan mengasuh anak dengan mengambil alih tanggung jawab anak sebagai pelajar.

Terus anaknya dapat ilmu apa dong kalo semua tugasnya dikerjakan oleh orang tua??
Yang sekolah anaknya atau orangtuanya nih? Hehe

4. Meremehkan Kemampuan Anak dalam Berpikir

Salah satu kesalahan yang tidak sadar sering dilakukan orang tua adalah meremehkan pikiran anak. Pernah tidak mendapati orang tua yang masih saja menganggap anaknya seperti anak kecil, yang belum paham apa-apa???

Misalnya nih ketika keluarga sedang mengahadapi suatu masalah, kemudian si anak ingin memberikan masukkan atau berupa solusi, namun pemikiran si anak dipatahkan oleh orang tua yang meremehkannya dengan menganggap dirinya masih kecil belum mengerti apapun tentang masalah yang sedang dihadapi keluarga.

5. Membandingkan Anak

Nah ini nih, pasti ada momen dimana kita sebagai orang tua membandingkan anak. Baik dengan orang lain, kakak atau adiknya, bahkan dengan diri kita sendiri. Betul apa betul??

"Kamu tahu ga? Dulu ibu waktu seusia kamu sudah ikut olimpiade matematika se-provinsi. Lah kamu? Coba lihat? Ulangan matematika saja selalu remidi. Gimana bisa ikut olimpiade??"

Hmm.. siapa nih yang suka gini ke anaknya? Ngacung!

Meskipun ada udang dibalik batu, atau ada niat tertentu dibalik itu. Membandingkan bukan lah hal yang tepat, meskipun tujuannya untuk memotivasi atau mendobrak semangat dan harga diri anak. Karena tiap anak kan pasti berbeda, meski bersaudara kandung. Beda karakternya, beda kelebihannya, beda juga minat bakatnya.
Sakit loh dibanding-bandingkan, sudah pernah ngerasain juga soalnya. Yaaaah, curcol. Hehe

Tapi membandingkan anak juga bisa untuk bahan evaluasi keluarga. Namun sebaiknya dibicarakan hanya berdua dengan pasangan dan tidak dibicarakan dihadapan anak.

6. Menyerahkan Pengasuhan Pada Orang Lain

Maksudnya disini adalah menyerahkan kendali pengasuhannya. Kasus ini banyak dijumpai pada orang tua yang bekerja, karena mereka menitipkan anaknya pada pengasuh atau orang tua atau mertua mereka.

Kebanyakan karena didasari rasa sungkan terhadap orang tua atau mertua yang bersedia direpotkan untuk mengasuh anak, akhirnya semua urusan anak diserahkan pada mereka. Akibatnya, orang tua kandung kesulitan untuk mengambil porsinya, merasa powerless terhadap anak, anak juga tidak memprioritaskan orang tua karena lebih mendengarkan kata nenek dan kakek. Dan akhirnya kelekatan pun lemah. Anak seperti tidak membutuhkan orangtuanya.

Ada yang merasakan ini ga??
Kalau saya, jujur pernah. Saat masih menjadi working-mom tentunya. Anak jadi lebih lengket dengan nenek dan kakeknya ketimbang saya. Jadi merasa gimana gitu.. Sedih banget..

Tapi tenang, ada solusinya untuk menghindari hal ini wahai para working-mom.
Caranya adalah dengan membuat aturan yang jelas dan tegas, yang juga disampaikan dan disepakati oleh pengasuh. Sehingga para pengasuh fokus pada satu aturan yang dibuat dan pola asuh yang diterapkan oleh orang tua.

Jadi, ketika si anak meminta hal yang tidak diizinkan, maka pengasuh akan menyarankan:
"Coba tanya Mama/Papa dulu, boleh ga?".

Dengan cara ini orang tua tetap memiliki prioritas dan hak tertinggi untuk menentukan pola asuh buah hati tercintanya.

7. Mematikan Emosi Anak

Kalau kesalahan mematikan emosi anak ini, masih sering nih saya lakukan. Terkadang tidak sengaja saya menyuruh anak diam saat dia sedang merengek. Maksud hati sih agar dia lebih tenang untuk menyampaikan isi hatinya. Eh, ternyata cara ini salah. Huhu

Hal ini sama artinya dengan kita tidak menghargai emosi anak. Kita tidak memberi kesempatan anak untuk melepaskan atau mengekspresikan emosi yang sedang dirasakan. Seharusnya sih kita membantu mereka melepaskannya, agar tidak mengganjal dan menumpuk di hati anak yang mana suatu saat bisa saja meledak.

8. Terlalu Banyak Motivasi Eksternal

Memotivasi anak memang perlu, tapi lebih baik jika motivasi yang kita berikan dapat menghidupkan semangat anak sehingga dia sanggup memiliki motivasi internal dari dalam dirinya sendiri.

Misalnya nih anak paham mengapa dia harus belajar sungguh-sungguh saat hendak ujian, yaitu agar mendapatkan nilai yang tinggi. Kita boleh memberi motivasi eksternal berupa hadiah. Anak akan mendapatkan hadiah jika nilai ujiannya semua bagus. Namun berbeda jika kita terlalu berlebih-lebihan dalam memberi motivasi eksternal, kata lainnya terlalu banyak kasih iming-iming. Anak akan fokus lada apa yang akan didapat dengan berusaha berbuat apapun agar mendapatkan goals dan mendapatkan apa yang orang tua janjikan.

Contohnya, agar mendapatkan nilai yang tinggi bukannya belajar tapi malah mencontek temannya. Tuh kan anak jadi menghalalkan segala cara.

9. Memberi Contoh Buruk

Banyak nih kesalahan orang tua yang secara tidak disengaja atau tidak disadari memberikan contoh yang buruk pada anak.
Kita menginginkan anak untuk tidak melakukannya, tapi kita sendiri justru melakukannya didepan anak-anak. Kan anak peniru ulung ya? Jadi ya jangan salahkan kalo dicontoh. Hehe

Contoh kecilnya nih ya, ketika kita mati-matian melarang anak bermain handphone, no screen time pokoknya. Eh, tapi kita sendiri kadang tidak sadar main handphone didepan anak-anak yang sedang asyik bermain. Ya akhirnya kan mereka penasaran dan ikutan main handphone juga. Bukan salah mereka kan?

10. Menegur Anak di depan Orang Lain

Pasti beberapa diantar kita ada yang pernah secara spontan bereaksi langsung menegur atau memarahi anak di depan orang lain kan? Ternyata menegurnya didepan umum bukanlah hal sepele. Karena anak juga memiliki harga diri, maka kita sebaiknya menghargai mereka dengan cara menegur yang baik.

Lalu bagaimana cara menegur yang baik?
Yaitu dengan cara membawanya menepi, atau ke sudut ruang lain, atau dengan memberi kode yang sudah disepakati.
Dengan mengajak anak bicara berdua sebentar atau memberi kode yang sudah disepakati, anak akan lebih menerima daripada dengan cara menegur mereka didepan orang lain. Kebanyakan anak akan melawan karena mereka mempertahankan harga dirinya.
 
Itulah kesalahan-kesalahan pola asuh yang kebanyakan dilakukan orang tua tanpa sengaja menurut analisis psikolog anak dan remaja berdasarkan dari mayoritas kasus klien-kliennya.

Tentunya dari tindakan pola asuh yang tidak tepat di atas dapat mempengaruhi pembentukan karakter dan kepribadian anak. Lalu, apa saja akibatnya??


Akibat dari Pola Asuh yang Tidak Tepat

akibat kesalahan pola asuh

1. Anak Menjadi Tidak Percaya Diri

Anak akan kehilangan rasa percaya dirinya ketika orang terdekat, yaitu orang tua tidak percaya terhadap dirinya. Anak akan kehilangan jati diri ketika dihadapkan banyaknya aturan. Anak tidak merasa bebas mengekspresikan dirinya, selalu terbebani dan takut melakukan kesalahan.

Begitu pula jika anak sering dibandingkan, diremehkan kemampuannya atau selalu dipermalukan didepan umum dengan cara memarahinya. Hal ini bisa membunuh kepercayaan dirinya dan membuatnya merasa insecure, anak merasa tidak dihargai dan selalu merasa lemah. Akibatnya mereka tidak pernah berani memulai sesuatu, tidak berani melawan kejahatan, dan kemungkinan menjadi
 korban bullying.

2. Anak Akan Bersikap Seenaknya

Merasa terlalu bebas dan tidak memiliki batas membuat anak merasa berkuasa. Dia tidak pernah memikirkan konsekuensi atau resiko yang akan dihadapi sehingga seringkali menyalahkan orang lain atas kegagalannya. Anak selaku merasa tidak cukup atau tidak puas sehingga menuntut lebih kepada orangtua atau orang lain. 

Ini adalah salah satu akibat jika anak dibesarkan dengan pola asuh yang minim aturan, terlalu memanjakan dan terlalu banyak motivasi eksternal. Selain hal di atas, anak juga bisa melakukan tindakan yang melanggar aturan, seperti menjadi pelaku bullying di sekolah. Atau tidak menghormati orangtua akibat pola asuh yang tidak tepat karena menyerahkan pengasuhan kepada orang lain.

3. Kesulitan Mengatur Emosi

Anak yang sering dimatikan emosinya atau yang tidak diajarkan bagaimana cara melepas emosi negatif dengan baik, maka dia akan memendam emosi tersebut. Sehingga menumpuk seperti bom yang bisa saja meledak kapanpun.

Atau bisa jadi si anak akan menjadi anak yang mudah marah, yang tersulit mengatur emosi. Karena luka batin yang dirasakan akibat seringnya dibandingkan, dipermalukan depan orang lain, diremehkan.

4. Tidak Punya Prinsip

Terlalu memanjakan dan memberi motivasi eksternal dapat menyebabkan anak kurang bersyukur dan selalu merasa tidak puas, sehingga anak tidak memiliki prinsip hidup yang jelas. Selalu merasa kurang dengan apa yang didapatkan. Selalu ingin lebih dan lebih.

Selain kesalahan pola asuh di atas, terlalu diremehkan pun membuat anak bingung menemukan jati dirinya. Merasa tidak berguna dan akhirnya tidak memiliki motivasi hidup dan tidak memiliki prinsip dalam menjalani hidupnya. Selalu takut salah dan mencari jalan keluar teraman untuk tiap masalah yang dihadapi.

5. Menjadi Anak Pembangkang

Anak pembangkang bisa jadi dilatarbelakangi karena kurangnya kelekatan antara orangtua dan anak. Merasa tidak diperhatikan, tidak butuhkan dan tidak diinginkan membuatnya memiliki rasa kecewa dan marah bersamaan. mungkin penyebab salah satunya adalah kesalahan dari orangtua yang mengandalkan orang lain dalam pengasuhan anaknya tersebut.

Atau karena terlalu banyak aturan, sehingga sang anak merasa lelah dan terkekang. Atau terlalu sering diremehkan dan tidak dihargai perasaanya, menyebabkan anak enggan menuruti nasihat orangtuanya.


Sebenarnya masih banyak lagi akibat yang dapat ditimbulkan dari kesalahan pola asuh, baik sadar ataupun tidak saat kita  melakukannya. Seperti pada beberapa contoh dari kasus-kasus yang diangkat oleh Ibu Vera Itabiliana H. P.si selaku expert, yaitu seorang psikolog anak dan remaja, yang sedang diwawancarai di Mommies Daily, yang bisa disimak pada video dibawah ini.



Gimana?? Sudah nonton dan menyimak video di atas??
Apakah ada kesamaan kasus pada kesalahan pola asuh yang sering dilakukan oleh kita?? Atau kita sendiri yang merasa menjadi korbannya??

Harapannya setelah membaca tulisan yang tidak seberapa ini dan menonton video di atas, kita bisa introspeksi diri. Belajar lebih peka lagi terhadap perilaku anak. Jangan gegabah menilai dan bertindak, cari tahu terlebih dahulu apa penyebab atau alasan dari suatu tindakan yang anak lakukan.
Karena sejatinya anak adalah cerminan kita. Jika ada yang salah atau keliru pada mereka, sudah pasti ada yang tidak tepat pula dalam pengasuhan kita. Karena yang menurut kita baik dan benar untuk anak, belum tentu begitu adanya. Bisa jadi kita melakukan kesalahan pengasuh karena dampak dari pola asuh yang kita terima dulu.
Jadi, jika anda menemukan kesalahan pola asuh yang sering dilakukan tanpa sadar, yuk segera perbaiki.



Selamat belajar ❤️







Sendy Yunika
Stay at Home Mom yang berusaha tetap produktif. Menambah peran sebagai momblogger dan penulis 9 buku Antologi sejak Maret 2021. Terima kasih sudah berkunjung :)

Related Posts

4 comments

  1. Emng gda yg lebih menyajikan selain dibanding-bandingkan apalagi orang nya kaya aku , suka incekiran. Wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mb, auto potek hati ini. Meski hal sepele atau ga sengaja ya. Huft~

      Delete
  2. Ngomongin pola asuh emang nggak ada habisnya ya Bun. Sebagai orang tua kita harus terus belajar. Semoga anak2 kita bahagia memiliki kita sbg orang tuanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener bgt.. pembelajar sejati seumur hidup. Krn tiap fasepun kita harus belajar dan adaptasi ya mb.

      Semoga kita bisa mengasuh anak dg bahagia biar anak-anak juga tumbuh dengan bahagia ,💜

      Delete

Post a Comment