Header

Cara Menggapai Mimpi Menjadi Ibu Salihah

4 comments
Konten [Tampil]
ibu salihah
Wanita merupakan makhluk mulia yang dikodratkan empat hal oleh Allah SWT; haid, hamil, melahirkan dan menyusui. Diberi nikmat menjadi seorang ibu, adalah sebuah amanah yang tidak mudah. Dan setiap ibu pasti memimpikan menjadi ibu salihah untuk keluargannya. Betul kan? Lalu, bagaimana caranya agar menjadi ibu salihah? Apa saja syarat dan ketentuan agar menjadi ibu salihah?

Katanya, menjadi ibu itu harus serba bisa, ya? Serba bisa yang seperti apa sih maksudnya? Menjadi ibu itu harus pintar dan berkualitas. Berkualitas dalam hal apa ya, teman? Namun, terlepas dari semuanya, yang perlu digaris bawahi adalah bahwa tugas dan peran penting wanita terlihat pada kedudukannya sebagai pendidik pertama dan utama generasi muda Islam di dalam rumah. Karena wanita adalah pemimpin dalam rumahnya, khususnya dalam hal pendidikan anak-anaknya. 
 
Seperti yang diungkapkan Kartini dalam suratnya kepada Ny. Abendanon tertanggal 21 Januari 1902 diungkapkan:
"Perempuan itu jadi soko guru peradaban. Dari perempuanlah pertama-tama manusia itu menerima didikan. Di haribaan-nyalah anak itu belajar merasa dan berpikir, berkata-kata, dan makin lama makin tahulah saya bahwa didikan yang mula-mula itu besar pengaruhnya bagi kehidupan manusia di kemudian hari. Dan betapakah ibu bumi putera akan sanggup mendidik anaknya bila mereka sendiri tiada berpendidikan?"
 
Sebuah ungkapan juga menyebutkan:
"Perempuan adalah tiang negara. Jika  perempuannya baik, maka baiklah negara, dan jika perempuannya rusak, maka rusaklah negara".
Sejalan dengan ungkapan ini, Sayid Muhammad Shadieq Hasan Khan, cendekiawan muslim asal Pakistan mengemukakan, pegangan paling kuat bagi emansipasi wanita atau perempuan ialah agama Islam dan pokok-pokok ajarannya termaktub di dalam Al Quran dan Hadis Nabi.

Nah, kita sekarang sudah benar-benar paham mengapa peran wanita, khususnya sebagai ibu sebagai pendidik bagi anak-anaknya adalah penting untuk peradaban. Lalu, bagaiamna cara agar menjadi pendidik yang baik menurut islam?
Berikut rangkuman dari materi "Menjadi Umma Shalihah" yang disampaikan oleh Umma Sholahudin di Reborn Class by Growing Umma. Silakan disimak..

Menjadi Pendidik yang Baik 

menjadi pendidik yang baik
1. Berusaha Memperbaiki Diri Sendiri

Memperbaiki diri sendiri merupakan faktor yang sangat penting, karena bagaimana mungkin seorang ibu bisa mendidik anaknya menjadi orang yang baik, kalau dia sendiri tidak memiliki kebiakan tersebut dalam dirinya? Maka kebaikan dan ketakwaan seorang pendidik sangat menentukan keberhasilannya dalam mengarahkan anak didiknya kepada kebaikan. Oleh karena itu, para ulama sangat menekankan kewajiban meneliti keadaan seorang yang akan dijadikan sebagai pendidik dalam agama.
 

2. Menjadi Teladan yang Baik untuk Anak-anak (Qudwah Hasanah)

Memberi teladan atau contoh yang baik dalam bersikap dan bertingkah laku di depan anak termausk metode pendidikan yang paling baik dan utama. Bahkan para ulama menjelaskan bahwa pengaruh yang ditimbulkan dari perbuatan dan tingkah laku yang langsung terlihat terkadang lebih besar dari pada pengaruh ucapan. Oleh sebab itu, kita harus berhati-hati dalm bersikap dan bertingkah laku di depan anak, karena mereka tanpa kita sadari akan meniru. Bukan kah anak adalah peniru ulung, teman?
 

3. Memlih Metode Pendidikan yang Baik bagi Anak

Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-‘utsaimin berkata, “Yang menentukan (keberhasilan) pembinaan anak, susah, atau mudahnya adalah kemudahan (taufik) dari Allah SWT, dan jika seseorang hamba bertakwa kepada Allah serta (berusaha) menempuh metode (pembinaan) yang sesuai dengan syariat Islam, maka Allah akan memudahkan urusannya (dalam mendidik anak). Allah berfirman pada QS Ath-Thalaaq: 4, “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya kemuddahan dalam (semua) urusannya.”
 
Nah, sekarang banyak sekali metode pendidikan yang popular di kalangan kita ya, teman. Sebaiknya kita memilih metode yang sesuai dengan syariat agama Islam, yaitu yang menghidupkan tauhid dan nilai-nilai Islam dalam pembelajarannya.
 

4. Kesungguhan dan Keseriusan dalam Mendidik Anak

Syariat Islam mewajibkan para orang tua untuk menunaikan amanah dengan mendidik anak-anak berdasarkan petunjuk agama Islam, serta mengajarakan kepada mereka hal-hal yang menjadi kewajiban mereka, dalam urusan agama maupun dunia.

Adapun kewajiban yang harus kita ajarkan pada anak-anak adalah:
-      menanamkan ideologi (tentang) iman kepada Allah SWT, para malaikat, kitab-kitab Allah, para Rasul, hari akhir dan mengimani takdir Allah yang baik maupun yang buruk, juga memperkokoh (pemahaman) tauhid yang murni dalam jiwa mereka, agar menyatu ke dalam relung hati mereka.
-      mengajarkan rukun Islam pada diri mereka dengan (selalu) menyuruh mereka mendirikan shalat, menjaga kejernihan fitrah mereka, menumbuhkna (pada) watak mereka akhlak yang mulia dan tingkah laku yang baik, serta menjaga mereka dari teman pergaulan dan pengaruh buruk dari luar.
 
Nah, setelah mengetahui cara agar menjadikan diri sebagai pendidik yang baik untuk anak-anak kita. Apakah kita sudah bisa dikatakan sebagai ibu salihah? Jawabannya belum, jika kita belum mengerjakan hal-hal di bawah ini. Apa saja kah itu? 

Menjadi Ibu Salihah

menjadi ibu salihah
1.     
Belajar Ilmu Syar’i (Aqidah, Tauhid, Fiqih, Tajwid, Adab)

Karena ilmu syar'i adalah pondasi agar kita selamat dalam melakukan apa yang Allah SWT perintahkan. Dengan kita memahami batasan-batasan yang diperbolehkan dan yang dilarang oleh Allah SWT, maka ini salah satu jalan kita untuk menjadi manusia yang lebih bertakwa.

2.     Mengerti, Memahami dan Mengerjakan Kewajiban Sebagai Seorang Istri

Bukah kah kita ingin hidup dengan ridho Allah? Setelah menikah, ridho perempuan tidak lagi pada orang tuanya, melainkan pada dirho suaminya. Oleh sebab itu, wajib hukumnya perempuan yang sudah menikah untuk menjalankan kewajiban-kewajibannya sebgaai seorang istri agar mendaptkan ridho suami dan tentunya rdiho Allah SWT agar semua yang dikerjakan menjadi berkah. 

3.     Memperbaiki Sholat (Bacaan, gerakan, sholat tepat waktu, tuma’ninah)

Tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah pada Allah SWT. Dan sholat adalah ibadah seorang hamba yang bersinggungan secara langsung dengan penciptanya. Dengan sholat, Allah akan menghindarkan kita dari perbuatan mungkar dan keji, menentramkan jiwa kita, menghapus kesalahan-kesalahan kita, menolong keseharian (urusan) kita dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang beruntung. Maka penting sekali untuk terus memperbaiki kualitas sholat kita.

4.     Menumbuhkan Al-Mahabbah (cinta), Al-Khauf (takut), dan Ar-Rajaa' (harap) hanya kepada Allah SWT

Tiga hal ini harus dimiliki secara bersamaan ketika beribadah kepada Allah. Dalam hal mendidik anak, kita hatrus memiliki rasa cinta, agar semua yang kita berikan dan kita lakukan pada anak sejatinya adalah karena Allah, karena anak adalah amanh dari Allah SWT. Kemudian rasa takut. Takut akan kekeliruan, kesalahan dalam mendidik anak baik karena khilaf atau dzalim yang tidak sengaja kita lakukan. takut akan adzan yang akan Allah berikan atas perbuatan kita. Kemudian berharap yaitu mengharapkan ridho Allah dalam membersamai dan mendidik anak. Agar kita mendapatakan cinta dan rahmat Allah SWT. 

5.    Terus belajar untuk Sabar

Selain anak adalah perhiasan bagi orang tuanya, anak juga sebagai ujian untuk orang tua. Contoh sederhannaya, anak sering seklai menguji kita dengan tingkah laku mereka. Tak jarang juga kita habis kesabaran menghadapi mereka yang mana sebernarnya mereka belum paham betul mana yang benar dan mana yang salah. Oleh sebab, itu kita sebagi orang tua harus terus belajar sabar mengahadapi anak-anak agar kita mendapatkan pahala Allah SWT.

6. Menjadi Qudwah Hasanah

Qudwah Hasanah artinya teladan yang baik. Menjadi teladan yang baik untuk diri sendiri yaitu dengan selalu intropeksi diri. Belajar dan mencontoh sifat-sifat perempuan Islam seperti istri-istri Nabi. Sehingga menampilkan sikap dan tinkah laku baik yang berdampak pada anak, keluarga dan juga masyarakat.

7. Meminta Pertolongan dan Berhusnudzon kepada Allah SWT

Kita harus selalu mengingat bahwa hanya kepada Allah SWT tempat kita meminta, tempat kita berharap dan meminta pertolongan. Tidak ada yang pantas, selain Allah SWT. Berharaplah hanya kepada Allah SWT untuk meminta apa saja yang engkau butuhkan selama itu masih berupa kebaikan untuk mencari ridha-Nya. dan Berbaik sangka kepada Allah adalah kenikmatan yang agung dan menjadi jaminan kebahagiaan hidup seseorang di dunia dan akhirat.
 

8. Menata Hati dan Bermuhasabah Diri

Setiap orang muslim dituntun untuk senantiasa melakukan muhasabah berdasarkan firman Allah dalam surah Al-Hasyr ayat 18 yang berbunyi; “Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah (dengan mengerjakan suruhan-Nya dan meninggalkan larangan-Nya), dan hendaklah tiap-tiap diri melihat dan memerhatikan apa yang ia telah sediakan (dari amal-amalnya) untuk hari esok (hari Akhirat). Dan (sekali lagi diingatkan) bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat meliputi pengetahuannya akan segala yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18).

9. Mengingat Kematian

Menurut Imam Ghazali, dahsyatnya kejadian dan besarnya bencana adalah kematian. Mengingat mati adalah salah satu cara mendekatkan diri kepada Allah SWT. Cara ini adalah cara untuk membuat kita sadar bahwa mati adalah sesuatu yang pasti dan entah kapan akan menghampiri. Sehingga kita selalu meminta ampun pada Allah SWT dan termotivasi untuk melakukan amal-amal salih untuk dijadikan bekal. 

10. Bertakwa kepada Allah SWT

Sebagai seorang sudah sewaibnya kita bertakwa pada Allah SWT. Ketakwaan adalah tujuan hidup bagi setiap muslim. Menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, semata hanya mengharapkan ridho-Nya inilah inti dari bertakwa. Ketaatan muncul sebagai wujud rasa takut tertinggi kepada satu-satunya Dzat yang pantas ditakuti, yaitu Allah SWT. Al-Qur’an menyebutk ada tiga ayat yang memerintahkan manusia untuk bertakwa kepada Allah SWT. Ketiga ayat tersebut adalah QS. Ali Imran ayat 102, QS. At-Taubah ayat 119 dan QS Al- Ahzab ayat 70.

Nah, sekrang pertanyaannya sudah kah kita 
menjadi pendid
ik yang baik? Sudahkah kita memperhatikan dan menjalankan hal-hal agar bisa menjadi ibu salihah di atas?
Ternyata untuk menjadi ibu salihah bukanlah perkara mudah, belajarnya juga tidak dalam waktu yang singkat, perlu banyak latihan yang terus diulang-ulang dalam pengerjaannya ya teman. Semoga kita tidak pernah bosan untuk terus belajar dan semoga Allah mudahkan kita untuk menggapai mimpi menjadi ibu shalihah untuk keluarga dan generasi kita. Aamiin..
 

Sendy Yunika
Stay at Home Mom - Blogger - Writer

Related Posts

4 comments

  1. Masya Allah... Bunda berguru nih sama Mbak Sendy..
    Nyimak sharingnya sambil introspeksi diri...
    Tq yaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama bunda, ini juga sebagai self reminder..

      Delete
  2. Belajar ilmu syariah adalah hal penting dalam pendidikan keluarga ya mb. Karena itu bekal untuk pendidikan keimanan pada anak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul pak, penting bagi kita sebagai orang tua memahami dan mengajarkan pada anak

      Delete

Post a Comment