Header

Golden Age: Prinsip Enlightening Parenting pada Periode Penting

7 comments
golden age
Aku yakin teman semua sudah tidak asing dengan istilah Golden Age. Kali ini aku ingin mengikat ilmu dan sharing tentang prinsip Enlightening Parenting pada periode Golden Age yang merujuk dari buku Enlightening Prenting, 6 Tahun Pertama Periode Penting karya Okina Fitriani dkk.

Seperti yang kita pahami, Golden Age adalah masa dimana perkembangan kehidupan anak secara fisik, intelektual, emosional dan sosial berkembang pesat. Periode ini berlangsung pada enam tahun pertama kehidupan anak. Itu sebabnya Golden Age disebut periode penting di awal kehidupan.

Nah, kita sebagai orangtua harus memperhatikan dan mengoptimalkan tumbuh kembang anak pada periode ini. Gimana caranya?? Yaitu dengan memahami konsep dasar Enlightening Parenting pada periode Golden Age ini.

Terdapat 5 dasar prinsip pengasuhan yang menajdi konsep dasar Enlightening Parenting. Apa sajakah itu? Yuk, kita bahas..

1. Fitrah atau Potensi Baik

fitrah
Allah SWT menciptakan manusia dengan fitrah, yaitu suci dan berpotensi baik sejak lahir. Selain itu, Allah SWT juga menjadikan otak manusia dilengkapi dengan bagian Pre-Frontal Cortex (PFC) yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya. 

Pre-Frontal Cortex (PFC) memiliki fungsi luhur akal budi, kemampuan berbahasa, merencanakan, memecahkan masalah, pengambilan keputusan dan fungsi kontrol. Dengan demikian, menjadi tugas orang tua untuk menjaga fitrah atau potensi baik anak agar tetap baik dan berkembang menjadi kompetensi yang diantaranya adalah pengetahuan, sikap, pemahaman, nilai, bakat atau kemampuan, dan minat.

Merujuk pada buku, ada tujuh fitrah atau potensi dasar manusia. Berikut ketujuh fitrah atau potensi baik anak dan cara membangunnya pada peridoe Golden Age:

1. Iman

Cara untuk menjaga dan membangun fitrah iman pada anak yaitu dengan menumbuhkan rasa syukur dan cinta kepada Allah SWT sebagai fondasi ketaatan, sebelum memasuki usia 7 tahun. Dimana pada usia 7 tahun anak sudah dapat diajarkan untuk menjalani ritual ibadah seperti salat dan berpuasa.

2. Bertahan Hidup

Fitrah ini dapat dibangun dengan cara membantu anak secara bertahap memnuhi kebutuhan hidup dan merawat dirinya sendiri. Seperti; makan sendiri, memkaia baju sendiri, mandi sendiri, dll.

3. Belajar hingga Piawai

Cara membangunnya dengan latihan kemahiran dan pengetahuan sesuai dengan tahap tumbuh kembang anak. Berikan pengulangan dan variasi tingkat kesulitan. Juga dengan belajar pengetahuan dasar melalui bermain sehingga menciptakan momen bahagia pada anak.

4. Kasih Sayang

Membangun fitrah kasih sayang pada anak dapat dilakukan dengan cara memberi apresiasi pada anak, perhatian, mindfulness saat membersamai anak. Intinya tidak hanya menerima, tetapi juga memberi.

5. Interaksi

Cara membangunnya dengan latihan adab dengan briefing dan role play sesuia tehap perkembangannya sebagai dasar karakter (akhlak).

6. Seksual

Dengan belajar dan memahami tubuh serta fungsi anggota tubuh dan cara merawat dan menjaganya adalah cara untuk membangun fitrah seksual. Cara lainnya juga bisa dengan belajar perbedaan peran jenis dan privasi.

7. Tanggung Jawab

Untuk membangun fitrah tanggung jawab, dapat dilakukan dengan cara berlatih membuat pilihan, menjaga konsistensi, dan mengambil keputusan. Cara-cara ini adalah dasar untuk belajar memimpin dan tanggung jawab saat usia baligh.


2. Tugas Penting Orangtua pada Periode Golden Age

tugas penting orangtua
Orangtua memiliki tiga tugas penting untuk mewujudkan potensi-potensi baik atau fitrah agar optimal. Karena potensi memerlukan saran untuk mewujdukan menjadi sifat, sikap, dan perilaku, yaitu melalui 3 hal berikut:

1. Menjadi Teladan

Orangtua adalah teladan untuk anak-anaknya. Oleh sebab itu, orangtua harus memberikan contoh atau perilaku yang mencerminkan tujuh potensi tersebut. Keteladanan adalah metode terbaik untuk mempersipakan akhlak, membentuk jiwa, dan rasa sosial anak. Karena manusia memiliki saraf cermin (mirror neuron), yaitu sistem saraf yang memberikan kemampuan otak untuk meniru apa yang dilihat dan dirasakan.

Jadi hangan heran ya, teman. Itulah alasannya mengapa anak di juluki si peniru ulung. Karena proses belajar pertama mereka adalah meniru. Entah kita sadari atau tidak, anak akan mengikuti tingkah laku, perkataan, respon, dan sikap kita. Untuk itu, jadilah teladan yang baik agar anak meniru perilaku yang baik juga dan tertanam kuat pada diri anak.

2. Mengingatkan

Tugas kedua orangtua yaitu mengingatkan. Ada 2 metode dalam mengingatkan, yang pertama yaitu dengan metode nasihat. Metode ini diberikan setelah pengalaman, pengetahuan, dan kemahiran anak terbentuk sehingga tujuan metode nasihat yaitu untuk memanggil kembali informasi yang sudah tertanam.

Kemudian metode mengingatkan kedua yaitu metode menegur. Metode ini efektif untuk memberi tahu anak perilaku mana yang tidak sesuai dan memberikan data bahwa ia pernah melakukan hal yang benar.

3. Memperbaiki

Orangtua memperbaiki dalam dua hal. Pertama, ketika anak mendapatkan pengalaman negatif sehingga menyebabkan trauma dan keyakinan yang salah. Kedua, ketika anak sudah terlalu jauh melangkah keluar jalur, segera bimbingan anak untuk kembali ke alan yang benar dan lurus.

Sedangkan konsekuensi dan hukuman dianggap sebagai kondisi darurat saja, bukan metode rutin. Konsekuensi dan hukuman juga diberikan setelah anak mampu bersepakat. Jika belum, maka sebaiknya orangtua menggunkan metode memperbaiki.

3. Kunci Enlightening Parenting pada Golden Age

kunci pengasuhan

1. Konsisten dan Kongruen

Konsisten memiliki arti tetap, tidak berubah-ubah, teguh dan fokus pada tujuan. Sedangkan kongruen memiliki arti selaras dan sebangun. Dalam hal pengasuhan konsisten dan kongruen berjalan bergandengan.

Konsisten dalam konteks ini tidak berate kaku dan tidak fleksibel. Melainkan kreatif dalam berbagai cara agar mencapai tujuan. Orangtua perlu menggunakan dan mengaplikaskan berbagai cara untuk membantu dan melatih anak menghadapi masalah.

2. Sabar

“Mendidik tidak mendadak”
Kalimat ini jleb sekali untukku. Kebanyakan orang beranggapan bahwa sabar hanyalah sekedar menahan emosi. Padahal arti sabar lebih jauh dari itu. salah satu definisi sabar adalah tidak tergesa-gesa dalam menjalani proses mendidik anak.

Apalagi kita tinggal di zaman semua serba instan, apa-apa instan tidak perlu repot. Banyak orangtua, mungkin aku termasuk di dalam golongan ini, yang ingin serba instan dalam proses tumbuh kembang anak. Baru sebentar mengajari anak angka, sudah menginginkan anak bisa berhitung. Baru saja berhasil mengarkan anak beberpa huruf, sudah ingin anak pandai mengeja. Meraskaannya juga??

Ini adalah bukti bahwa banya orang tua mengedepankan nafsu ingin ditururi dan nafsu ingin cepat tercapai keinginannya. Nafsu dan ketergesa-gesa ini lah yang membuat orang tua menggunakan cara-cara yang justru menimbulkan stres, gangguan perkembangan, trauma dan kebencian.

3. Kasih Sayang

Dilansir dari referensi, Dr. Abdullah Nashin Ulwan menyebutkan bdalam bukunya bahwa kelembutan dan kasih sayang adalah dasar penanaman dan pembenahan akhlak anak. hardikan dan perilaku kasar dapat menyebabkan kerusakan sistem saraf yang setara dengan anak yang mendapatkan siksaan fisik dan pelecehan seksual.

14 abad lalu, Nabi Muhammad SAW pernah mengingatkan seorang ibu yang secara kasar merenggut bayi dari gendongan beliau karena si bayi buang air kecil dan membasahi pakaian beliau. Beliau menegur “Pakaian yang basah ini dapat dibersihkan dengan air. Tapi, apa ada yang bisa menghilangkan kekeruhan jiwa anak ini akibat renggutan yang kasar itu?”

“Rasulullah SAW berkata, “Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan mencintai kelembutan. Allah memberi kepeada kelembutan hal-hal yang tidak diberikan kepada kekerasan dan sifat-sifat lainnya.” (HR. Bukhari, diriwayatkan oleh Aisyah)”
Nah, itulah lima prinsip dasar pengasuhan yang perlu kita terapkan dalam periode golden age anak, teman. Sebenarnya masih ada beberapa prinsip dasar lainnya yang perlu orangtua ketahui dan pahami serta diaplikasikan. Tapi next article ya! InsyaAllah akan ku tulis di lain kesempatan. Semangat mengaplikasikan enlightening parenting :)
Sendy Yunika
Stay at Home Mom - Blogger - Writer

Related Posts

7 comments

  1. Keteladanan merupakan tugas penting ortu yang sering diabaikan. Padahal anak adalah peniru ulung. Kita saja yang kadang tidak sadar

    ReplyDelete
  2. Quote nya bagus banget,, mendidik tidak mendadak,,,
    Memang perlu kesabaran untuk mewujudkannya, sementara banyak org tua masih apa yang diperintahkan harus diturut, tanpa melihat psikologis anak

    ReplyDelete
  3. children see and children do! rupanya ini terjadi karena pengaruh dari mirror neuron ya. Pantesan kok kayak cermin emaknya banget heuheu

    Super sekali mendapat ilmu baru dari mbak Sendy tentang enlightening parenting. Ku jadi terpacu lagi untuk menjadi orang tua yang menerapkan pola ini.

    ReplyDelete
  4. Mengena sekali mom, ini sambil kucatat beberapa poin penting, terkesan juga sama mendidik tidak mendadak, rima yang pas dan apik langsung nyantol ke kepala, kayaknya jadi tagline biar aku nggak lupa hihi...

    ReplyDelete
  5. MasyaAllah. Dari 3 tugasnya, menjadi teladan ini yang rasanya sulit ya Mbak. Kadang kelepasan. Maunya begini, eh tingkah di depan anak malah begitu🙈

    ReplyDelete
  6. Mendidik tidak mendadak .. noted besad garis bawah cetak tebal.

    Yup! 7 prinsipnya kece banget . Dua dari 7 yakni iman dan survival harus jadi bekal, seringkali poin survival ini kurang bisa diujikan ke anak hanha karena anak terbiasa nyamam dg ortu.

    Keren sharingnya moms

    ReplyDelete
  7. Intinya sebagaiborang tua kita harus beresin diri sendiri juga ya mbak. Bismillah semangat.

    ReplyDelete

Post a Comment