Header

Cerita Tentang Polusi Udara dan Dampaknya Pada Perubahan Iklim

2 comments
Konten [Tampil]
Cerita tentang polusi udara
Belakangan ini cuaca terasa sangat panas. Suhu bumi kian hari kian meningkat, apakah ini berkaitan dengan cerita tentang polusi udara yang akan ku bahas kali ini?

Pasti kalian juga sadar, hujan yang ditunggu pada musimnya datang tak merata dan tak menyeluruh. Ada beberapa wilayah yang merasakan kekeringan, ada juga wilayah yang dilanda kebanjiran.

Begitu pun saat aku rajin memeriksa temperatur cuaca melalui smartphone ku untuk mengetahui berapa derajat Celsius suhu di wilayah ku saat itu. Ternyata suhu di wilayah ku yaitu Gresik, kota industri berskala internasional, ini semakin hari semakin tinggi.

Jika kalian rajin memeriksa temperatur suhu harian sepertiku, kalian pasti akan mendapati angka yang cukup tinggi, yaitu angka-angka di atas 32° saat siang hari. Terkadang panas yang dirasakan lebih besar dari suhu yang tertera, lho. Bisa 4-8 tingkat di atasnya. Belum lagi sinar UV yang selalu berada di tingkat ekstrim. Seperti tangkapan gambar di bawah ini:
Selimut polusi
Kira-kira apa penyebabnya, ya? Apa kaitannya dengan cerita tentang polusi udara? Apakah selimut polusi membuat bumi semakin panas dan menyebabkan perubahan iklim?
Pertanyaan-pertanyaan di atas muncul ketika pikiranku mulai berandai-andai untuk tinggal ke wilayah yang bersuhu rendah.

Ternyata peningkatan suhu panas ini merata, tidak hanya di Indonesia saja, bahkan dunia. Meningkatkan suhu panas bumi ini disebut dengan pemanasan global.

For your information, perubahan iklim yang terjadi tidak luput dari campur tangan manusia juga, lho. Kok bisa? Simak penjelasan berikut, yuk!

Cerita Tentang Polusi Udara dan Efek Rumah Kaca pada Perubahan Iklim

Untuk mencari tahu mengapa pemanasan global terjadi dan bisa menyebabkan perubahan iklim, berikut cerita tentang polusi udara, efek rumah kaca dan juga perubahan iklim. Simak dengan seksama, ya!

Tentang Iklim

Iklim adalah rata-rata cuaca dimana cuaca merupakan keadaan atmosfer pada suatu saat di waktu tertentu. Iklim didefinisikan sebagai ukuran rata-rata dan variabilitas kuantitas yang relevan dari variabel tertentu (seperti temperatur, curah hujan atau angin), pada periode waktu tertentu, yang merentang dari bulanan hingga tahunan atau jutaan tahun.

Iklim berubah secara terus menerus karena interaksi antara komponen-komponennya dan dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu:

1. Faktor eksternal, yang artinya faktor dari alam; seperti aktifitas gunung berapi yang mengeluarkan abu dan gas vulkanik, variasi sinar matahari, kebakaran hutan, dan kegiatan mikroorganisme. Polutan yang dihasilkan biasanya berupa asap, debu, dan gas.

2. Faktor yang disebabkan oleh kegiatan manusia, seperti:
  1. Pembakaran; pembakaran sampah, pembakaran pada kegiatan rumah tangga, kendaraan bermotor, dan kegiatan industri. Polutan yang dihasilkan antara lain asap, debu, grit (pasir halus), dan gas (CO dan NO).
  2. Proses peleburan; proses peleburan baja, pembuatan soda, semen, keramik, aspal. Polutan yang dihasilkannya meliputi debu, uap, dan gas.
  3. Pertambangan dan penggalian. Polutan yang dihasilkan terutama adalah debu.
  4. Proses pengolahan dan pemanasan; proses pengolahan makanan, daging, ikan, dan penyamakan. Polutan yang dihasilkan meliputi asap, debu, dan bau.
  5. Pembuangan limbah, baik limbah industri maupun limbah rumah tangga. Polutannya adalah gas H2S yang menimbulkan bau busuk.
  6. Proses kimia; pada pemurnian minyak bumi, pengolahan mineral, dan pembuatan keris. Polutan yang dihasilkan umunya berupa debu, uap dan gas.
  7. Proses pembangunan; pembangunan gedung-gedung, jalan dan kegiatan yang semacamnya. Polutannya seperti asap dan debu.
  8. Proses percobaan atom atau nuklir. Polutan yang dihasilkan terutama adalah gas dan debu radioaktif.
Faktor yang disebabkan oleh aktivitas manusia dapat mengubah komposisi dari atmosfer global dan variabilitas iklim alami pada periode waktu yang dapat diperbandingkan.

Unsur-unsur yang dapat mengubah komposisi atmosfer global tersebut bisa berupa karbon monoksida (CO), Nitrogen dioksida (No2), chlorofluorocarbon (CFC), sulfur dioksida (So2), Hidrokarbon (HC), Benda Partikulat, Timah (Pb), dan Carbon Diaoksida (CO2) yang disebut dengan Gas Rumah Kaca.

Tentang Gas Rumah Kaca

Pada dasarnya, Gas Rumah Kaca dibutuhkan untuk menjaga suhu bumi tetap stabil. Akan tetapi, konsentrasi Gas Rumah kaca yang semakin meningkat membuat lapisan atmosfer semakin tebal.

Penebalan lapisan atmosfer tersebut menyebabkan jumlah panas bumi yang terperangkap di atmosfer bumi semakin banyak, sehingga mengakibatkan peningkatan suhu bumi, yang disebut dengan pemanasan global. Peningkatan konsentrasi Gas Rumah Kaca bisa disebut sebagai polutan atau jenis bahan pencemar udara.

Nah, sampai sini sudah terjawab ya, teman. Mengapa pemanasan global terjadi dan kaitannya dengan polusi udara?

Selanjutnya kita akan bahas cerita tentang polusi udara dan kaitannya dengan perubahan iklim.

Tentang Perubahan Iklim

Kenaikan suhu bumi tidak hanya berdampak pada naiknya temperatur bumi tetapi juga mengubah sistem iklim yang mempengaruhi berbagai aspek pada perubahan alam dan kehidupan manusia.

Dilansir dari mediaindonesia.com, CEO Landscape Indonesia mengatakan, krisis iklim yang terjadi tidak dipungkiri saling berhubungan erat dengan pencemaran udara. Ia menuturkan, polusi udara disebabkan oleh gas-gas rumah kaca termasuk juga black carbon yang mampu menutupi permukaan bumi yang cerah.

Penyebab dan dampak pencemaran udara yang paling utama selalu terkait dengan manusia. Manusia menjadi penyebab utama dan terbesar terjadinya pencemaran udara. Pun manusia pula yang merasakan dampak terburuk dari terjadinya pencemaran udara.

Intinya, pencemaran udara yang disebabkan oleh manusa membentuk selimut polusi membuat bumi semakin panas dan menyebabkan perubahan iklim.

Dampak Perubahan Iklim Bagi Manusia

Perubahan iklim yang disebabkan oleh #SelimutPolusi berdampak sangat luas pada kehidupan manusia. Berikut adalah beberapa dampak negatif dari perubahan iklim bagi manusia:

1. Gagal Panen

Pemanasan global menyebabkan beberapa masalah terhadap lingkungan, seperti meningkatkan permukaan air laut, kebakaran hutan, hingga pola migrasi hewan yang berubah.

Pemanasan global menyebabkan perubahan iklim yang dapat meningkatkan risiko kekeringan, perubahan pola hujan, dan meningkatkan intensitas cuaca ekstrem.

Tentunya hal-hal tersebut sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia. Salah satu dampak negatif nyata yang diakibatkan dari cuaca tak menentu yaitu gagal panen.

2. Menyebabkan Bencana Alam

Dampak perubahan iklim lainnya yaitu menyebabkan bencana alam. Jika suhu bumi meningkatkan, maka suhu air juga banyak yang menguap. Kondisi tersebut bisa menyebabkan curah hujan ekstrem sehingga menimbulkan badai destruktif, banjir dan juga longsor.

Frekuensi dan luasnya badai tropis juga dapat dipengaruhi oleh meningkatnya suhu lautan. Badai seperti siklon, hurikan, dan taifun diketahui lebih kuat pada permukaan air laut yang lebih hangat. Tak jarang, badai tersebut menghancurkan rumah hingga menyebabkan kematian.

3. Mengakibatkan Kekeringan

Perubahan iklim turut mengubah ketersediaan air yang dapat memicu kekeringan di berbagai wilayah. Pemanasan global juga bisa memperburuk kekeringan di wilayah yang telah mengalami kesulitan air.

Kekeringan ini dapat mengakibatkan kerugian terutama pada sektor pertanian. Pasalnya, bidang pertanian sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air dalam menjalankan usahanya. Tak hanya itu, kekeringan juga dapat memicu badai pasir dan debu yang dapat memindahkan miliaran ton pasir hingga ke berbagai benua.

4. Mengganggu Suplai Makanan

Dampak perubahan iklim lainnya yaitu bisa menggangu suplai makanan. Hal tersebut dikarenakan, perubahan iklim dapat menggangu sektor perikanan, pertanian, dan peternakan.

Ketiga sektor tersebut menjadi kurang produktif saat terjadi perubahan iklim. Kondisi tersebut membuat suplai makanan menjadi terganggu.

5. Meningkatkan Risiko Kesehatan

Perubahan iklim juga bisa menyebabkan risiko kesehatan pada manusia. Seperti yang dilansir dari Ditjenppi.menlhk.go.id menyebutkan bahwa, kemarau panjang akibat perubahan iklim dapat menyebabkan bakteri, virus, jamur, dan parasit berkembang dengan cepat.

Mikroorganisme tersebut bisa berkembang dengan cepat akibat kelembapan udara saat musim kemarau cukup tinggi. Kondisi ini menyebabkan banyak orang terjangkit penyakit yang berhubungan dengan bakteri dan udara seperti penyakit kulit.

Kemarau panjang juga bisa menyebabkan kebakaran hutan. Akibatnya, kualitas udara memburuk dan dan bisa memicu infeksi pada saluran pernapasan. Tak hanya itu, perubahan iklim juga bisa memicu kemunculan penyakit seperti malaria dan demam berdarah.

Penyakit-penyakit tersebut bisa muncul saat terjadi banjir. Pasalnya, saat banjir lingkungan menjadi lebih kotor dan kumuh.

6. Menurunnya Kualitas dan Berkurangnya Kuantitas Air

Terlalu tingginya curah hujan akan mengakibatkan menurunnya kualitas sumber air. Selain itu, kenaikan suhu juga mengakibatkan kadar klorin pada air bersih.

Pemanasan global akan meningkatkan jumlah air pada atmosfer, yang kemudian meningkatkan curah hujan. Meski kenaikkan curah hujan sebetulnya dapat meningkatkan jumlah sumber air bersih, namun curah hujan yang terlalu tinggi mengakibatkan tingginya kemungkinan air untuk langsung kembali ke laut, tanpa sempat tersimpan dalam sumber air bersih untuk digunakan manusia.

Hal ini tentu sangat berdampak pada kelangsungan hidup manusia. Jika tidak ada air bersih, maka manusia akan sangat kesulitan untuk bertahan hidup.

Hutan Salah Satu Solusi Polusi dan Perubahan Iklim

Seperti penjelasan sebelumnya, pemanasan global dan perubahan iklim terjadi karena peningkatan gas rumah kaca. Salah satu fungsi pohon adalah meredam polusi udara.

Seperti spons/busa, pohon menyerap karbondioksida yang dihasilkan oleh kegiatan-kegiatan yang dilakukan manusia dan makhluk hidup lainnya.

Gas karbondioksida tersebut diubah menjadi oksigen. Penyerapan karbon dioksida membantu mengurangi keberadaan gas rumah kaca. Semakin banyak pepohonan, maka semakin banyak karbon dioksida yang diserap dari atmosfer dan disimpan untuk pertumbuhan tanaman. Fungsi pohon ini dijalankan dengan sangat masif oleh hutan.

Dengan kata lain, hutan memiliki kekuatan untuk mempengaruhi iklim. Dilansir dari nationalgeographic.grid.id, para peneliti menemukan bahwa hutan memancarkan bahan kimia yang disebut senyawa organik volatil biogenik (BVOCs) yang menciptakan aerosol yang memantulkan energi yang masuk dan membentuk awan – keduanya merupakan efek pendinginan. Sementara mereka juga menyebabkan penumpukan dua gas rumah kaca – ozon dan metana – pada keseimbangan, pendinginan melebihi pemanasan.

Akar yang dalam, penggunaan air yang efisien, dan apa yang disebut kerapatan kanopi juga memungkinkan hutan untuk mengurangi dampak panas yang ekstrem.

Kualitas fisik ini memungkinkan pohon memindahkan panas dan kelembapan dari permukaan bumi tempat kita tinggal, yang secara langsung mendinginkan area lokal dan memengaruhi pembentukan awan dan curah hujan – yang memiliki konsekuensi jauh.
Selimut polusi
Nah, itu sebabnya sebagai generasi #MudaMudiBumi, mari kita jaga dan lestarikan hutan sebagai salah satu wujud dari menyelamatkan bumi.

Upaya Mengurangi Pemanasan Global

Sebagai manusia yang hidup di bumi, sudah sepatutnya kita ambil andil untuk menekan pemanasan global. Salah satunya menjadi promotor dan teladan di lingkungan kita.

Menjadi bagian dari #TeamUpForImpact bisa dimulai dari hal-hal kecil, lho! Berikut beberapa di antaranya:
Selimut polusi

1. Matikan Perangkat Elektronik yang Tidak Terpakai

Salas cara menekan pemanasan global adalah dengan hemat listrik, yaitu mematikan lampu, kipas, AC, komputer, TV, melepas charger HP saat tidak digunakan dan barang elektronik lainnya saat tidak digunakan.

Menggunakan lampu LED adalah cara cerdas untuk meningkatkan efisiensi energi. Apalagi harga lampu LED sekarang sudah terjangkau, pilihlah yang memiliki sensor cahaya sehingga bisa mati secara otomatis.

2. Hemat Air

Terkadang kita tidak sadar sedang melakukan pemborosan air. Misalnya berwudhu dengan aliran air yang sangat deras, mencuci piring dengan air yang mengalir terus menerus, menggosok gigi dengan kran air yang mengalir, berlama-lama mandi di bawah guyuran shower.

Nah, untuk upaya berhemat air segera perbaiki aktivitas pemborosan air di atas. Kita juga bisa memanfatkan air bilasan cucian pakaian terakhir untuk menyiram tanaman atau menadah air hujan untuk menyiram tanaman, membersihkan lantai dan sebagainya.

3. Gunakan Transportasi Umum & Sepeda

Batasi penggunaan mobil dan sepeda motor. Gunakan seperlunya saja seperti untuk menempuh jarak jauh. Untuk jarak dekat kita bisa memulai kebiasaan berjalan kaki atau menggunakan sepeda. Hal ini akan membatasi peningkatan karbon dioksida dan karbon monoksida di atmosfer.

Selain bentuk upaya menekan pemanasan global, manfaat lain yang kita dapat adalah badan yang sehat dan berhemat. Seperti yang kita tahu, harga bahan bakar minyak kan naik semua. Hehe

4. Minimalkan Penggunaan Peralatan Yang Mengandung CFC

Cara Mengatasi Pemanasan Global yang mudah adalah CFC (Cloro Four Carbon) merupakan senyawa-senyawa yang mengandung atom karbon dengan klorin dan fluorin terikat padanya.

CFC umumnya dihasilkan oleh peralatan pendingin udara, perlu diketahui bahwa saat ini CFC menyumbangkan 20% dalam proses terjadinya efek rumah kaca.

Karenanya dalam mengatasi suhu ruang yang panas, kita dapat merancang sebuah bangunan yang mempunyai banyak ventilasi udara sehingga tidak perlu memakai pendingin ruang atau AC. Namun seandainya penggunaan AC memang diperlukan pastikan, memakai AC non CFC yang ramah lingkungan. Begitu juga dengan kulkas, sebaiknya kita memakai kulkas non CFC untuk menghindari efek rumah kaca.

5. Reduce

Reduce atau kurangi menjadi langkah pertama yang harus dilakukan dari prinsip pengolahan sampah 3R (Reduce – Reuse – Recycle). Ini adalah aksi nyata sebelum sampah ada. Ini adalah upaya preventif atau pencegahan agar sampah tidak dihasilkan.

Contoh aksi reduce adalah adalah membawa tas belanja yang awet atau bisa berulang kali pakai daripada kresek yang biasanya hanya sekali pakai. Bisa juga dengan tidak menggunakan sedotan plastik saat minum, dan menggunakan wadah makan/minum yang berulang kali pakai.

6. Reuse

Reuse (gunakan kembali) adalah langkah kedua dari prinsip pengolahan sampah 3R (Reduce – Reuse – Recycle) yang dikenal oleh masyarakat global. Reuse adalah upaya untuk menggunakan kembali sampah yang dihasilkan, setelah upaya reduce (pengurangan) sudah dilakukan.

Reuse (gunakan kembali) biasanya identik dengan menggunakan barang tersebut untuk fungsi yang lain tanpa merubah bentuknya.

Contoh upaya yang termasuk reuse adalah pemanfaatan gelas plastik yang sudah rusak atau tidak layak lagi digunakan untuk wadah minum digunakan untuk pot/polibag tanaman. Piring yang rusak setelah berulang kali pakai juga bisa digunakan untuk alas pot tanaman.

7. Recycle

Recycle adalah langkah kedua dari prinsip pengolahan sampah 3R (Reduce – Reuse – Recycle) yang artinya upaya pengurangan sampah dengan mendaur ulang. Dalam hal ini harus dibedakan antara sampah anorganik dan sampah organik.

Untuk mendaur ulang sampah anorganik bisa dengan mengumpulkan barang-barang seperti botol plastik bekas minuman, majalah, kertas bekas, maupun kaleng bekas.

Recycle juga dapat didefinisikan sebagai upaya mengolah barang yang tidak terpakai menjadi barang baru. Upaya ini memerlukan campur tangan produsen dalam praktiknya. Namun, terdapat beberapa sampah yang dapat didaur ulang secara langsung oleh masyarakat seperti pengolahan sampah menjadi kompos, batako, dan briket.

Dalam pengertian lain, recycle merupakan upaya mengolah limbah menjadi bahan lain yang bermanfaat atau mengubah barang bekas menjadi benda lain yang lebih berguna dan layak pakai. Contohnya seperti mengubah bekas kemasan dari plastik atau botol menjadi vas bunga dan kerajinan lainnya.

8. Banyak Makan Sayur

Dilansir dari gramedia.com, penelitian oleh Oxford University di Inggris dan lembaga penelitian pertanian Swiss, Agroscope, menemukan bahwa daging dan produk susu berkontribusi sebanyak 18 persen dari semua kalori dan 37 persen dari semua protein.

Produksinya menggunakan 83 persen lahan pertanian dan menghasilkan 60 persen dari emisi gas rumah kaca industri pertanian. Produksi daging melibatkan produksi pakan dan kerap mengakibatkan penggundulan hutan, khususnya hutan hujan tropis. Karenanya terapkan pola hidup vegan untuk selamatkan bumi kita.

9. Menanam Pohon (Reboisasi)

Ayo mulai tanam pohon di halaman rumah (Go Green)! Dengan menanam pohon juga dapat mengurangi resiko terjadinya banjir yang merupakan salah satu dampak dari pemanasan global.

Pohon-pohon yang kita tanam di halaman rumah sekecil apa pun halamannya, sudah pasti akan berperan untuk meredam polusi udara.

10. Ajakan untuk Menjaga Alam dan Lingkungan

Sebarkan pengetahuan tentang perubahan iklim, mulailah dari media sosial dan lingkungan terdekat. Ajarkan mereka untuk menghormati serta turut menjaga alam dan lingkungan. Luangkan waktu untuk memberi informasi atau terlibat dalam kegiatan sosial untuk membantu menyayangi Bumi. Meskipun terlihat sepela, upaya ini merupakan wujud dari kasih sayang kita #UntukmuBumiku.

Jika aku memiliki kesempatan untuk membuat kebijakan mengurangi polisi demi mengatasi perubahan iklim, aku akan mengoptimalkan upaya-upaya di atas. Selain itu aku akan mewajibkan tiap rumah memiliki area hijau. Baik taman depan, indoor atau taman belakang. Sedikitnya memiliki bebera tanaman atau pohon.

Jika memungkinkan, mewajibkan perusahaan dan pabrik memfasilitasi bus antar jemput untuk karyawan. Sehingga mengurangi jumlah kendaraan bermotor. Begitupun dengan sekolah dan universitas. Untuk melancarkan program-program ini, jika perlu akan diberikan sanksi atau denda agar tidak dianggap sepele.

Kebijakan tersebut dirancang dengan niat untuk menjalankan perintah Allaah, sesuai dengan perintahNya dalam QS. Al'raf ayat 56:
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Kesimpulan

Pencemaran udara terjadi karena efek rumah kaca yang semakin meningkat dan membentuk #SelimutPolusi membuat bumi semakin panas dan menyebabkan perubahan iklim.

Untuk meredam selimut polusi tersebut, kita membutuhkan pohon dan hutan. Sebagai #MudaMudiBumi, inilah waktu kita untuk menjadi #TeamUpForImpact dengan melakukan upaya-upaya untuk menekan pemanasan global yang dimulai dari diri sendiri.

Sekecil apapun upaya yang kita lakukan merupkan wujud #UntukmuBumiku dengan harapan Bumi tetap sehat dan berumur panjang.

Semoga bermanfaat! :)








Sumber:
http://ditjenppi.menlhk.go.id/kcpi/#
https://m.mediaindonesia.com/humaniora/488243/upaya-atasi-perubahan-iklim-dan-polusi-udara-perlu-berjalan-bersamaan
https://dlh.bulelengkab.go.id/informasi/detail/artikel/sumber-penyebab-dan-pencemaran-udara-48
https://katadata.co.id/intan/berita/62a355592ffd6/7-dampak-perubahan-iklim-bagi-manusia-dan-lingkungan
http://ditjenppi.menlhk.go.id/kcpi/index.php/aksi/mitigasi/implementasi/330-menanam-pohon-untuk-mengatasi-pemanasan-global
https://nationalgeographic.grid.id/read/13309234/hutan-memiliki-tenaga-super-untuk-lindungi-bumi-dari-pemanasan-global
https://www.gramedia.com/literasi/cara-mengatasi-pemanasan-global/
Sendy Yunika
Stay at Home Mom - Blogger - Writer

Related Posts

2 comments

  1. Setuju nih idenya tentang membuat lahan hijau setiap rumah..

    ReplyDelete
  2. makasi infonya, sepertinya lebih tenang hidup di pedesaan ya, dengan masih banyak pohon" besar untuk menangkal polusi

    ReplyDelete

Post a Comment