Header

Kenali 4 Jenis Pola Asuh, Mana yang Terbaik??

20 comments
Konten [Tampil]
 
Jenis pola asuh
Semenjak menjadi orangtua, pasti tidak lepas dari bab pengasuhan. Ternyata ada beberapa jenis pola asuh yang ada di masyarakat. Kira-kira pola asuh kalian yang mana??

Pola asuh adalah cara bagaimana kita mengasuh anak. Mulai dari cara menjaga, merawat, mendidik membimbing, membantu, melatih anak yang berorientasi menuju kemandirian.

Berbicara tentang pola asuh, terkadang kita tidak sadar sedang menerapkan pola asuh yang mana. Karena pola asuh yang kita lakukan saat ini pada anak-anak kita adalah hasil pengasuhan kita dulu.
“Psikolog Elly Risman mengatakan banyak orang tua masa kini yang mengasuh anak dengan mengadopsi bagaimana cara dia diasuh orang tuanya. Padahal tidak semua pola pengasuhan orang tua terdahulu itu baik”

Padahal zaman sudah berbeda, kita hidup dan tumbuh di era masing-masing. Namun pola yang terbentuk masih saling berkaitan seperti sebuah rantai.

Jadi bagaimana seharusnya pola asuh yang benar? Pola asuh yang bisa membuat anak tumbuh dengan bahagia??

4 Jenis Pola Asuh

Menurut Edward (2006), Pola asuh orang tua dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya pendidikan orang tua, lingkungan, dan budaya. Oleh karena faktor-faktor itu, pola asuh digolongkan menjadi beberapa jenis, yaitu:

1. Pola Asuh Otoriter

 
Pola asuh otoriter
Pola asuh otoriter merupakan pola asuh yang memiliki aturan-aturan ketat, mengajarkan bahwa anak-anak harus selalu tunduk pada apa yang dikatakan tanpa pengecualian.

Bahkan seringkali pola asuh ini menggunakan paksaan, anak harus menuruti apa yang diinginkan orangtua. Di sini anak-anak tidak diberi kesempatan untuk mengungkapkan pendapat, keinginan juga perasaan mereka.

Pengasuh otoriter biasanya juga memberikan hukuman daripada disiplin, sehingga anak biasanya merasa bersalah ketimbang belajar menentukan pilihan lain.

Pernah mendapati seorang anak yang dituntut harus jadi juara kelas?? Sehingga dia harus mengikuti berbagai macam les. Dituntut memperoleh nilai selalu sempurna, agar bisa melanjutkan pendidikan di sekolah A, misalnya.

Nah, orangtua seperti itu adalah orangtua yang menerapkan pola asuh otoriter. Sehingga dampak bagi anak biasanya memiliki masalah kepercayaan diri karena merasa tidak pernah dihargai. Tumbuh menjadi pribadi yang agresif atau kasar karena memendam amarah terhadap orang tua yang otoriter.

2. Pola Asuh Neglectful atau Acuh

 
Pola asuh neglectful
Orang tua yang memiliki pola asuh neglectful biasanya disebut dengan orang tua tidak ideal. Kenapa? Karena mereka memiliki sikap acuh pada anak, atau dalam kata lain bisa disebut dengan lalai.

Orang tua biasanya tidak banyak terlibat dalam urusan anak, tidak tahu apa yang dilakukan anak sehingga mereka tidak memiliki banyak aturan dan juga batasan yang tegas, bahkan orang tua tidak memperhatikan kebutuhan anak.

Imbasnya, anak-anak cenderung tidak terarah, tidak menerima asuhan, dan kekurangan perhatian orang tua.

Namun tidak semua orang tua dengan pola asuh ini berniat mengabaikan anak. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi orang tua bersikap acuh pada anak, yaitu; latar belakang pendidikan, masalah ekonomi, mengalami masalah kesehatan mental, atau penyalahgunaan obat-obatan, dan lainnya.

Sehingga orang tua lebih sibuk dengan urusan mereka tanpa mengetahui dan peduli tentang pertumbuhan anak. Menurut mereka, anak akan bisa belajar hidup dengan sendirinya.

Dampak dari pola asuh neglectful pada anak antara lain kepercayaan diri yang rendah, prestasi akademik yang buruk, tidak bahagia, serta memiliki berbagai masalah perilaku.

3. Pola Asuh Permisif

 
Pola asuh permisif
Berkebalikan dengan pola asuh neglectful yang mengabaikan kebutuhan anak, pola asuh permisif adalah pengasuhan dimana orang tua selalu mengutamakan kenyamanan anak.

Pola asuh ini menempatkan orang tua dalam posisi sebagai teman daripada orang tua. Sehingga anak lebih terbuka. Orang tua dengan pola asuh permisif cenderung toleran, lunak dan mudah luluh meskipun telah menetapkan berbagai aturan.

Sehingga orang tua mudah menjadi lemah terhadap setiap keinginan anak. Sehingga mereka tidak bisa mengatakan “tidak” dan cenderung memanjakan anaknya. Akibatnya, anak tidak memahami batasan yang jelas dan aturan yang tegas.

Dampak negatif dari pola asuh permisif adalah anak-anak cenderung mendominasi dan egois, tidak mandiri, tidak patuh pada peraturan, dan tidak percaya diri.

4. Pola Asuh Otoritatif

 
Pola asuh otoritatif
Pola asuh otoritatif disebut juga pola asuh yang demokratis. Pola asuh ini menggunakan komunikasi dua arah, tidak hanya orang tua yang bersuara, mereka juga mendengarkan suara dari sudut pandang anak.

Orang tua sering mengajak anak berdiskusi sehingga anak akan lebih terbuka dan nyaman mengemukakan pendapatnya. Orang tua dengan pola asuh ini selalu berusaha selalu mendukung, responsif dan menciptakan rasa kesadaran pada anak dengan menjelaskan setiap aturan secara bijak.

Pola asuh ini mampu menciptakan hubungan hubungan yang positif antara orang tua dan anak. Peraturan yang dibuat oleh orang tua, akan bisa diterima oleh anak karena dilandasi oleh kesepakatan.

Menurut penelitian, pola asuh otoritatif ini membuat anak tumbuh dengan bahagia, mandiri, bertanggung jawab, berani berpendapat, pandai mengambil keputusan serta memiliki mental yang sehat.

Kesimpulan

Pola asuh berperan penting pada pertumbuhan anak. Sebagai seorang ibu, yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan anak, akan banyak ambil andil pola pengasuhan.

Dari keempat jenis pola asuh di atas, dapat disimpulkan pola asuh yang paling baik dan ideal adalah pola asuh otoritatif.

Mari kita menjadi orang tua yang bahagia dengan belajar menerapkan pola asuh otoritatif agar anak tumbuh dengan bahagia. Untuk tips menjadi orang tua bahagia, silakan baca tulisan ini. 

Semoga bermanfaat!












Sumber:
https://wyethnutrition.co.id/kenali-4-pola-asuh-anak-usia-dini
https://insanq.co.id/artikel/4-jenis-gaya-pengasuhan-atau-pola-asuh-anak-parenting-style-pilih-yang-mana/
https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/jenis-jenis-pola-asuh-orang-tua


Sendy Yunika
Stay at Home Mom - Blogger - Writer

Related Posts

20 comments

  1. Saya pernah bekerja diluar negeri, saya bisa simpulkan, majikan saya di Singapura itu tipe nomor satu. Majikan di Hongkong tipe nomor dua. Dan majikan yg di Taiwan itu tipe nomor tiga

    Saya sendiri, saat ini sudah pulang kampung dan punya anak, berusaha mengadopsi semua kebaikan dari semua tipe pola asuh condong ke tipe nomor terakhir, demokratis

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menginspirasi nih pilihannya Teh Okti, mengadopsi hal yang baik dari tipe² tersebut. Ambil yang baik, jangan tiru yang negatifnya ya

      Delete
  2. Kalau inget-inget zaman anak-anak kecil, kayaknya aku tipe otoriter sih dan rada-rada permisif juga. Dalam hal tertentu otoriter kalik, tapi juga sangat melindungi. Hum...mungkin aku ortu jadul kayaknya, belum zamannya demokratis...wkwkwk...

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener banget, akupun sepertinya pernah mendapatkan pola asu tipe otoriter. Memang sangat menentukan karakter kita di masa dewasa. Dimana ada sedikit negatif vibes yang saya dapatkan, seperti jadi karakter yang menjiwai.

      Delete
    2. Sama Mbak Hani, saya juga begitu
      Mungkin karena patron kita sama
      Dan teladan kita, ortu dan guru kita otoriter
      Jadi deh turun temurun

      Delete
  3. Kalo baca pengertian masing-masing, yang nomor 4 perfecto banget ya kak. Insight bermanfaat ini yah bisa daku terapkan pasca berumahtangga, tinggal pilih deh pola asuh yang asik

    ReplyDelete
  4. Pola asuh memang seperti sebuah rantai karena diwariskan. Harus banyak belajar agar bisa memutus rantai pola asuh yang salah dan menerapkan pola asuh terbaik.

    ReplyDelete
  5. bagus tulisannya
    Saya jadi inget, dulu pernah baca tentang Ciputra (iya konglomerat itu) mendidik anak-anaknya dengan keras, seperti memukul dan memarahi
    Untunglah dia bertemu pakar yang membantunya mengubah cara pola asuh
    Dan hasilnya seperti sekarang, anak-anak Ciputra sukses tapi tetap rendah hati

    ReplyDelete
  6. Begitu penting pemahaman pola asuh ini dan penerapannya pada anak-anak. Pengaruhnya luar biasa pada pertumbuhan psikis dan mental anak. Aku pribadi sering termenung, udah bener atau belum ya pola asuhku (as a single parent) pada anak-anak?

    ReplyDelete
  7. Aku kayanya tipe campur2 mbak
    Kadang otoriter, kadang acuh, kadang juga minta saran, hehee
    Yang penting anak masih tetap dalam koridor yang lurus aja deh, InsyaAllah
    Kdang kalau ngikutin parenting2 itu aku yang keteteran :D
    Thanks sharingnya, mbak...

    ReplyDelete
  8. Kayaknya saya masih menggunakan ke4 pola asuh ini deh untuk anak² saya, soalnya tergantung keadaan dan kondisi anak ya

    ReplyDelete
  9. Ternyata masing2 pola pengasuhan ada plus minusnya ya. Yang permisif, ortu jadi deket sama anak tapi jadinya malah anak kurang hormat ya. Aku baru tahu ini mba. Makasih sharingnya

    ReplyDelete
  10. Menjadi orang tua itu belajar seumur hidup ya Mbak Sendy. Di setiap generasi dan rentang umur anak-anak, kita dituntut untuk lebih bijak dalam mendidik. Apalagi sekarang dunia digital dan teknologi sudah menyentuh anak-anak tanpa ampun. Kewajiban kita untuk membuka mata dan harus mengikuti perkembangan zaman.

    ReplyDelete
  11. Iya, banyak sekali ya pola asuh itu
    Kalau aku, lebih suka menjalankan pola asuh otoritatif
    Biar lebih bahagia dalam proses pengasuhan

    ReplyDelete
  12. Andai semua orang tua mengikuti Pola asuh otoritatif yang menggunakan komunikasi dua arah, tidak hanya orang tua yang bersuara, tapi juga mendengarkan suara dari sudut pandang anak.

    ReplyDelete
  13. Banyak ternyata jenis pola asuh itu ya kak. kebetulan almarhumah mama saya menganut pola asuh otoritatif. Jadi kalau ada apa-apa didiskusikan dulu bareng2. Cuma saya tetep tumbuh jadi anak yang kurang mampu mengutarakan pendapat kalau lagi bareng sama orang lain. karena gak pedean sejak kecil ehehe

    ReplyDelete
  14. Seneng rasanya karena kini banyak orangtua di circle aku yang sadar bahwa kita butuh belajar meskipun menjadi orangtua. Jadi dengan belajar, orangtua bisa kelola emosi dan semoga pola asuh yang diterapkan adalah otoritatif, sehingga komunikasi dengan anak generasi Z dan alpha ini bisa lebih lancar. Anak-anak tetap menjadi diri mereka sendiri dengan karakter kuat yang positif.

    ReplyDelete
  15. Menjadi orang tua itu belajar seumur hidup. Masing-masing jenis pola asuh itu ada kelemahan dan kelebihannya menurut saya. Jadi kalau saya, berusaha mengambil hal baik dari masing-masing pola asuh itu dalam membersamai anak-anak

    ReplyDelete
  16. zaman sekarang orang tua harus bisa belajar lebih banyak lagi soal pengasuhan anak ya karena dampaknya akan sangat besar untuk kehidupan anak hingga dewasa, menurut aku mau bagaimana pun pola asuhnya penting juga untuk komunikasikan dengan pasangan dan keluarga supaya bisa diterapkan dengan baik

    ReplyDelete
  17. Ngaruh banget ya, pola asuh orangtua ke anak. Dan itu bakalan ngaruh juga ke perilaku dan cara anak menjalani hidup serta menyelesaikan masalah.

    ReplyDelete

Post a Comment